Senin, 24 Maret 2014

Novel "Randi" priview aja,

Hai agan agan yang ganteng n cantik, selamat sore semua, nih saya ada sebuah cerita karangan sendiri, ngk super woi sihh... tp pantas untuk di baca, monggo yang mau baca,, tp ini hanya rifiew aja,, selanjutnya akan diliris tahun depan... hehehe.. SELAMAT MEMBACA...!!!!!!
Randi

Hari yang cerah, di sebuah gubuk tua di tepi pantai, berbaringlah seorang pemuda lugu yang tak pernah tahu akan masa depan yang telah menantinya, sebut saja dia Randi, dia hanya bisa bermimpi dan bermimipi, tanpa pernah berusaha untuk dapat mewujudkanya. Tetapi dia tahu, bahwa bermimpi adalah langkah awal dalam menyusun rencana yang lebih baik, dan dia juga tahu, bahwa rancana yang baik berawal dari mimpi yang baik.
Hari yang begitu cerah, Randi hanya berbaring diatas kasur yang sudah sangat lusuh, sembari melihat ke arah atap seng yang penuh dengan lubang dia mulai melamun, entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba terdengar suara tembakan, “Duaaarrrr”, Randi terkejut dan langsung melihat keluar dari jendela. “Dika! Apa itu kamu? Aku sedang ingin bersenang-senang” teriak Randi dari dalam gubuk. “Apa? Bersenang-senang katamu, kau telah berbaring di sana selama 6 jam!” jawab Dika dengan lantang, “Seharusnya kau mengisi harimu dengan hal yang lebih berguna” tambah Dika. “Hem, ya ya” jawab Randi dengan acuh dan segera dia pergi keluar, “Heh Dika, adakalanya seseorang butuh refresing, santai saja, hahaha” kata Randi sambil berjalan. “Adakalanya apaan, kau setiap hari hanya makan, tidur, makan, tidur” jawab Dika sambil membersihkan senapanya. “Hehe, iya sih, santai sajalah, nikmati harimu, hahahahaha” jawab Randi dengan santai. Dika hanya terdiam melihat tingkah temannya yang tak pernah dia pahami, tetapi dia tau bahwa pasti suatu hari nanti Randi bisa berubah.

Hari yang begitu panas, dan masih di tempat yang sama, Dika dan Randi masih sibuk berdebat tentang tingkah Randi yang selalu santai dan tak pernah serius, tiba-tiba datang sebuah mobil jip hitam dengan seperangkat senjata militer di atapnya. Dika dan Randi terdiam, kemudian turunlah 4 orang berseragam militer lengkap dengan senjata, tiga lainnya pergi menuju pantai, dan salah satunya melihat ke arah Randi dan Dika, kemudian dengan santai, tentara itu bertanya, “Apa kalian yang menembakkan senjata api disini?”, kemudian Dika menjawab “Iya Pak, saya sendiri yang melakukanya, saya hanya berlatih Pak”, “Emm.. tidak ada hal lain kan?”tambah tentara itu, “Iya Pak, aman terkendali” jawab Dika. “Baguslah kalau begitu, laporkan jika ada masalah” kata tentara itu sambil melihat ke arah pantai, “Siap Pak!” sahut Dika, kemudian dengan bergegas para tentara itu pergi meninggalkan Randi dan Dika. “Untuk apa datang hanya untuk bertanya seperti itu” kata Randi. “Itu kan prosedur keamanan, tentu saja mereka harus seperti itu” jawab Dika dengan santai, “Lagi pula dalam situasi perang seperti ini, semua harus ekstra hati-hati” tambah Dika. “Ya, tapi tetap saja, seperti kurang kerjaan” sahut Randi, mereka membali berdebat namun tetap saja tiada yang mau mengalah.
Senja mulai datang, Randi dan Dika masih asik berdebat, namun tiba-tiba tentara itu kembali datang, dengan cepat mereka langsung meminta Randi dan Dika meninggalkan tempat itu. “Cepat! Tinggalkan tempat ini” teriak salah satu tentara dari dalam mobil. “Ada apa? Kenapa kami harus pergi?” jawab Dika dengan bingung, kemudian tentara itu menjawab “Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat! Kalian harus...” perkataan terpotong, tiba-tiba sebuah roket melesat nyaris mengenai bagian depan mobil. “Duarrrrrrr” roket meledak tepat di sebalah kiri mobil, membuat mobil langsung terbalik ke kanan, dengan segera semua tentara itu keluar dan mencari tempat perlindungan. “Kalian harus pergi dari sini!” teriak salah seorang tentara. Randi hanya terdiam bingung, kemudian Dika memukul punggungnya “Plakkk”, “Ayo!” teriak Dika. Randi tersadar kemudian segera beralari mengikuti Dika menuju mobil di sebelah gubuk tua. Tetapi tiba-tiba sebuah roket melesat tepat mengenai gubuk dan meledak, gubuk itu hancur tetapi Dika masih bisa mencapai mobil disebalahnya, dengan cepat Dika menghidupkan mesin, “Ayo Randi”. Randi berlari menuju mobil dan langsung melompat masuk ke bagian bak mobil, kemudian dengan cepat Dika memacu pedal gas dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua telah pergi menjauh dari pantai itu, namun tiba-tiba Dika menghentikan mobilnya, “Ada apa?” tanya Randi dari belakang. “Lihat kedepan” jawab Dika. Randi dan Dika tertegun melihat perumahan penduduk yang telah hancur dan terbakar, mayat dimana-mana, semua hancur tanpa ada tanda-tanda kehidupan. “Lihat semua kegilaan ini” kata Dika dengan raut muka yang sedih, “Aku ingin menghancurkan mereka, ini tanah kita, cukup sampai disini” tambahnya. “Kau benar, kita harus kembali ketempat itu” kata Randi dengan pasti, namun tiba-tiba mereka berdua di hujani peluru senapan dari kejauhan. Randi melompat keluar dan berlindung, sedangkan Dika membalas tembakan dari dalam mobil, baku tembak yang sengit pun terjadi, Dika kemudian keluar dan mencari tempat yang lebih strategis sedangkan Randi berlari menuju kearah mayat tentara yang masih lengkap dengan senjatanya. Dika menembak dengan sangat baik, musuh terlihat berjatuhan, itensitas tembakan pun mulai berkurang, “Lindungi aku!” teriak Randi, dengan sigap Dika langsung melesatkan tembakan kearah musuh. Randi berlari dengan cepat menuju sebuah tumpukan batu yang memiliki jarak lebih dekat dangan musuh, “Apa yang dia pikirkan” kata Dika dalam hati, tiba-tiba Randi melemparkan sesuatu kearah musuh yang ada di dalam bangunan, “Duarrr” bangunan itu meledak dengan tekanan yang sangat tinggi, semuanya terpental jauh, bahkan tidak ada musuh yang sempat berlindung, Dika terkagum heran melihat aksi gila temannya, kemudian dengan santai mendekati Randi yang duduk sambil tertawa melihat hasil dari apa yang telah dia perbuat. Dika tersenyum dan ikut duduk di sebelah Randi, mereka tertawa bersama tanpa berfikir ada bahaya yang mendekat.
Hujan mulai turun membasahi seluruh tanah peperangan itu, api yang membakar bengunan telah mulai padam, dan matahari mulai bersembunyi disisi lain bumi, malam mulai tiba. “Dika, dulu aku bermain air soft gun di bangunan itu, dengan misi difuse bom, aku tak pernah gagal, timku selalu menang” kata Randi dengan lesu, “Ya, dan kali ini kau mengulanginya lagi” jawab Dika dengan santai, “Kau benar, tapi kali ini aku membiarkan bom itu meledak dan menghancurkan gedung itu” sahut Randi. Dika melihat ke arah Randi, dia tahu maksut dari temanya, kemudian dengan tersenyum dia menepuk punggung Randi kemudian berkata “Ayo, kita balas mereka, mereka harus membayar semua yang telah mereka ambil dari kita”, Randi tersenyum dan kemudian mengangkat kepalanya “Kau benar, ayo kita selesaikan ini” kata Randi dengan penuh keyakinan.
Randi kemudian berdiri dengan tegap menatap langit dan langsung menembakkan pistol yang dia bawa, dia tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan telah membuat dirinya terancam, dan dengan cepat seorang penembak jitu dari musuh menembakkan  senjatanya dari jarak yang begitu jauh. Tembakan itu tepat mengenai perut Randi, Randi langsung terlempar, Dika terkejut dang langsung berlari mendekati Randi “Apa kau sudah gila!” teriak Dika, “Aku terlalu bersemangat” jawab Randi. Dika mencoba membawa Randi ketempat yang lebih aman, namun sial bagi Dika, penembak jitu itu juga melihatnya, Dika tertembak tepat di punggungnya, dia terjatuh disebelah Randi. Randi berusaha bangun dan melihat Dika telah tidak sadarkan diri, Randi mulai berusaha membawa Dika pergi menjauh, namun dia terjatuh dan mulai kehilangan kesadaran, Randi hanya bisa berbaring, setangah sadar dia melihat kearah langit, “Tidak ada bintang” gumanya dalam hati, tiba-tiba dia melihat ada 2 helikopter terbang melintas tepat di atas mereka berdua, dan ada satu yang mengikuti dari belakang, namun berhenti. Helikopter itu mulai mendaratkan beberapa orang, dan salah satu melihat kearah Randi dan langsung memeriksanya, “Dia masih hidup” kata orang itu.

รจ bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar