Hai agan agan yang ganteng n cantik, selamat sore semua, nih saya ada sebuah cerita karangan sendiri, ngk super woi sihh... tp pantas untuk di baca, monggo yang mau baca,, tp ini hanya rifiew aja,, selanjutnya akan diliris tahun depan... hehehe.. SELAMAT MEMBACA...!!!!!!
Randi
Hari
yang cerah, di sebuah gubuk tua di tepi pantai, berbaringlah seorang pemuda
lugu yang tak pernah tahu akan masa depan yang telah menantinya, sebut saja dia
Randi, dia hanya bisa bermimpi dan bermimipi, tanpa pernah berusaha untuk dapat
mewujudkanya. Tetapi dia tahu, bahwa bermimpi adalah langkah awal dalam
menyusun rencana yang lebih baik, dan dia juga tahu, bahwa rancana yang baik
berawal dari mimpi yang baik.
Hari
yang begitu cerah, Randi hanya berbaring diatas kasur yang sudah sangat lusuh, sembari melihat ke arah atap seng yang penuh dengan lubang dia
mulai melamun, entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba terdengar suara tembakan, “Duaaarrrr”, Randi terkejut dan langsung
melihat keluar dari jendela. “Dika! Apa
itu kamu? Aku sedang ingin bersenang-senang” teriak Randi dari dalam gubuk.
“Apa? Bersenang-senang katamu, kau telah
berbaring di sana selama 6 jam!” jawab Dika dengan lantang, “Seharusnya kau mengisi harimu dengan hal
yang lebih berguna” tambah Dika. “Hem,
ya ya” jawab Randi dengan acuh dan segera dia pergi keluar, “Heh Dika, adakalanya seseorang butuh
refresing, santai saja, hahaha” kata Randi sambil berjalan. “Adakalanya apaan, kau setiap hari hanya
makan, tidur, makan, tidur” jawab Dika sambil membersihkan senapanya. “Hehe, iya sih, santai sajalah, nikmati
harimu, hahahahaha” jawab Randi dengan santai. Dika hanya terdiam melihat
tingkah temannya yang tak pernah dia pahami, tetapi dia tau bahwa pasti suatu
hari nanti Randi bisa berubah.
Hari
yang begitu panas, dan masih di tempat yang sama, Dika dan Randi masih sibuk
berdebat tentang tingkah Randi yang selalu santai dan tak pernah serius,
tiba-tiba datang sebuah mobil jip hitam dengan seperangkat senjata militer di
atapnya. Dika dan Randi terdiam, kemudian turunlah 4 orang berseragam militer
lengkap dengan senjata, tiga lainnya pergi menuju pantai, dan salah satunya
melihat ke arah Randi dan Dika, kemudian dengan santai, tentara itu bertanya, “Apa kalian yang menembakkan senjata api
disini?”, kemudian Dika menjawab “Iya
Pak, saya sendiri yang melakukanya, saya hanya berlatih Pak”, “Emm.. tidak ada hal lain kan?”tambah
tentara itu, “Iya Pak, aman terkendali”
jawab Dika. “Baguslah kalau begitu,
laporkan jika ada masalah” kata tentara itu sambil melihat ke arah pantai,
“Siap Pak!” sahut Dika, kemudian
dengan bergegas para tentara itu pergi meninggalkan Randi dan Dika. “Untuk apa datang hanya untuk bertanya
seperti itu” kata Randi. “Itu kan
prosedur keamanan, tentu saja mereka harus seperti itu” jawab Dika dengan
santai, “Lagi pula dalam situasi perang
seperti ini, semua harus ekstra hati-hati” tambah Dika. “Ya, tapi tetap saja, seperti kurang kerjaan”
sahut Randi, mereka membali berdebat namun tetap saja tiada yang mau
mengalah.
Senja
mulai datang, Randi dan Dika masih asik berdebat, namun tiba-tiba tentara itu
kembali datang, dengan cepat mereka langsung meminta Randi dan Dika
meninggalkan tempat itu. “Cepat!
Tinggalkan tempat ini” teriak salah satu tentara dari dalam mobil. “Ada apa? Kenapa kami harus pergi?” jawab
Dika dengan bingung, kemudian tentara itu menjawab “Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat! Kalian harus...” perkataan
terpotong, tiba-tiba sebuah roket melesat nyaris mengenai bagian depan mobil. “Duarrrrrrr” roket meledak tepat di
sebalah kiri mobil, membuat mobil langsung terbalik ke kanan, dengan segera
semua tentara itu keluar dan mencari tempat perlindungan. “Kalian harus pergi dari sini!” teriak salah seorang tentara. Randi
hanya terdiam bingung, kemudian Dika memukul punggungnya “Plakkk”, “Ayo!” teriak Dika.
Randi tersadar kemudian segera beralari mengikuti Dika menuju mobil di sebelah
gubuk tua. Tetapi tiba-tiba sebuah roket melesat tepat mengenai gubuk dan
meledak, gubuk itu hancur tetapi Dika masih bisa mencapai mobil disebalahnya,
dengan cepat Dika menghidupkan mesin, “Ayo
Randi”. Randi berlari menuju mobil dan langsung melompat masuk ke bagian
bak mobil, kemudian dengan cepat Dika memacu pedal gas dan langsung pergi
meninggalkan tempat itu.
Mereka
berdua telah pergi menjauh dari pantai itu, namun tiba-tiba Dika menghentikan
mobilnya, “Ada apa?” tanya Randi dari
belakang. “Lihat kedepan” jawab Dika.
Randi dan Dika tertegun melihat perumahan penduduk yang telah hancur dan
terbakar, mayat dimana-mana, semua hancur tanpa ada tanda-tanda kehidupan. “Lihat semua kegilaan ini” kata Dika
dengan raut muka yang sedih, “Aku ingin
menghancurkan mereka, ini tanah kita, cukup sampai disini” tambahnya. “Kau benar, kita harus kembali ketempat itu” kata
Randi dengan pasti, namun tiba-tiba mereka berdua di hujani peluru senapan dari
kejauhan. Randi melompat keluar dan berlindung, sedangkan Dika membalas
tembakan dari dalam mobil, baku tembak yang sengit pun terjadi, Dika kemudian
keluar dan mencari tempat yang lebih strategis sedangkan Randi berlari menuju
kearah mayat tentara yang masih lengkap dengan senjatanya. Dika menembak dengan
sangat baik, musuh terlihat berjatuhan, itensitas tembakan pun mulai berkurang,
“Lindungi aku!” teriak Randi, dengan
sigap Dika langsung melesatkan tembakan kearah musuh. Randi berlari dengan
cepat menuju sebuah tumpukan batu yang memiliki jarak lebih dekat dangan musuh,
“Apa yang dia pikirkan” kata Dika
dalam hati, tiba-tiba Randi melemparkan sesuatu kearah musuh yang ada di dalam
bangunan, “Duarrr” bangunan itu
meledak dengan tekanan yang sangat tinggi, semuanya terpental jauh, bahkan
tidak ada musuh yang sempat berlindung, Dika terkagum heran melihat aksi gila
temannya, kemudian dengan santai mendekati Randi yang duduk sambil tertawa
melihat hasil dari apa yang telah dia perbuat. Dika tersenyum dan ikut duduk di
sebelah Randi, mereka tertawa bersama tanpa berfikir ada bahaya yang mendekat.
Hujan
mulai turun membasahi seluruh tanah peperangan itu, api yang membakar bengunan
telah mulai padam, dan matahari mulai bersembunyi disisi lain bumi, malam mulai
tiba. “Dika, dulu aku bermain air soft
gun di bangunan itu, dengan misi difuse bom, aku tak pernah gagal, timku selalu
menang” kata Randi dengan lesu, “Ya,
dan kali ini kau mengulanginya lagi” jawab Dika dengan santai, “Kau benar, tapi kali ini aku membiarkan bom
itu meledak dan menghancurkan gedung itu” sahut Randi. Dika melihat ke arah
Randi, dia tahu maksut dari temanya, kemudian dengan tersenyum dia menepuk
punggung Randi kemudian berkata “Ayo,
kita balas mereka, mereka harus membayar semua yang telah mereka ambil dari
kita”, Randi tersenyum dan kemudian mengangkat kepalanya “Kau benar, ayo kita selesaikan ini” kata
Randi dengan penuh keyakinan.
Randi
kemudian berdiri dengan tegap menatap langit dan langsung menembakkan pistol
yang dia bawa, dia tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan telah membuat dirinya
terancam, dan dengan cepat seorang penembak jitu dari musuh menembakkan senjatanya dari jarak yang begitu jauh.
Tembakan itu tepat mengenai perut Randi, Randi langsung terlempar, Dika
terkejut dang langsung berlari mendekati Randi “Apa kau sudah gila!” teriak Dika, “Aku terlalu bersemangat” jawab Randi. Dika mencoba membawa Randi
ketempat yang lebih aman, namun sial bagi Dika, penembak jitu itu juga
melihatnya, Dika tertembak tepat di punggungnya, dia terjatuh disebelah Randi.
Randi berusaha bangun dan melihat Dika telah tidak sadarkan diri, Randi mulai
berusaha membawa Dika pergi menjauh, namun dia terjatuh dan mulai kehilangan
kesadaran, Randi hanya bisa berbaring, setangah sadar dia melihat kearah
langit, “Tidak ada bintang” gumanya
dalam hati, tiba-tiba dia melihat ada 2 helikopter terbang melintas tepat di
atas mereka berdua, dan ada satu yang mengikuti dari belakang, namun berhenti.
Helikopter itu mulai mendaratkan beberapa orang, dan salah satu melihat kearah
Randi dan langsung memeriksanya, “Dia
masih hidup” kata orang itu.
รจ
bersambung